Selayang Pandang

JEMAAT GPM BETHABARA

                Pada awalnya Jemaat GPM Bethabara berada dalam satu kesatuan dengan Jemaat GPM Bethel Klasis Kota Ambon. Namun karena dinamika dan pertumbuhan Jemaat GPM Bethel yang semakin pesat dan rentang kendali terhadap daya jangkau pelayanan bagi warga gereja yang berada di lokasi sekitar Batu Merah dan Karang Panjang yang kurang menyentuh, maka dirasakan perlu dilakukan langkah penjejakan untuk persiapan pemekaran jemaat.

Pdt. Dominggus Souhoka pada saat itu dipercayakan oleh Badan Pekerja Harian Sinode GPM sebagai Penghentar Jemaat GPM Bethel. Dalam proses kepemimpinan beliau, melalui Persidangan Jemaat GPM Bethel di tahun 1979, maka disepakatilah penjejakan pemekaran Jemaat GPM Bethel. Hasil keputusan Sidang Jemaat GPM Bethel di tahun 1979 dibawakan dalam Persidangan Klasis GPM Kota Ambon, kemudian diteruskan ke Badan Pekerja Lengkap Sinode GPM melalui Persidangan BPL tahun 1980. Dalam Persidangan Badan Pekerja Lengkap Sinode GPM pada tahun 1980 diputuskan dan ditetapkanlah bahwa Jemaat GPM Bethel dimekarkan menjadi 3 (tiga) jemaat, antara lain Jemaat GPM Bethel, Jemaat GPM Bethabara, dan Jemaat GPM Imanuel. Realisasi Pemekaran Jemaat GPM Bethabara secara resmi dilaksanakan pada tanggal 6 September 1983. Kepemimpinan Jemaat GPM Bethabara pada saat itu dipercayakan kepada Pdt. M. Lawalata yang dibantu oleh Pdt. Ny. Lies Marantika. Jemaat GPM Bethabara pada saat itu dibagi menjadi 8 (delapan) sektor pelayanan yaitu sektor I s.d sektor VIII. Dinamika pelayanan terus-menerus mengalami perkembangan baik dalam pelayanan bergereja maupun bermasyarakat. Dalam proses pelayanan selanjutnya jemaat GPM bethabara mengalami perkembangan yang begitu pesat, baik dalam proses peningkatan pelayanan maupun dalam berbagai lini lainnya.

Perjalanan pelayanan bergereja di tahun 1999 tepatnya pada tanggal 19 Januari terjadi konflik sosial yang bermula dari Jemaat GPM Bethabara dan pada akhirnya merambat sampai ke kota Ambon dan Maluku secara umumnya. Kerusuhan yang terjadi membawa dampak yang sangat besar bagi warga jemaat, dimana bangunan rumah maupun gereja mengalami kebakaran. Tidak sedikit kerugian jiwa maupun materi yang ditimbulkan sebagai akibat dari konflik ini. Kegiatan peribadahan jemaat pun dialihkan ke Gereja Kerapatan Toraja samping Kantor Lurah Amantelu bagi anggota jemaat yang masih bertahan dan berdomisili pada sektor I, II, dan III, sedangkan untuk peribadahan di Gereja Anugerah Wisma Atlik Karpan bagi warga jemaat yang mengalami dampak langsung korban kerusuhan yakni pada Sektor III, IV, V, VI, VII dan VIII. Keadaan umat sebagai pengungsi di Wisma Atlit berlangsung sampai dengan tahun 2006. Perhatian terhadap warga jemaat korban konflik pun berdatangan dari berbagai instansi maupun LSM, termasuk pemerintah yang kemudian mengambil sikap untuk merelokasi warga jemaat dari wisma ke daerah Kayu Tiga Petuanan Negeri Soya. Pada tanggal 28 April 2006 Gubernur, Wakil Gubernur, dan Muspida bersama Pimpinan Gereja Protestan Maluku melepaskan warga jemaat Bethabara yang berada di lokasi pengungsian (wisma Atlit dan GOR) ke lokasi pemukiman baru di Kayu Tiga. Pelaksanaan ibadah perdana bagi Jemaat GPM Bethabara yang direlokasikan ke Kayu Tiga dilaksanakan pada tanggal 6 Mei 2006. Pada saat terjadinya konflik sosial Jemaat GPM Bethabara dipimpin oleh Pdt. I. D. Toisuta dan dibantu oleh Pdt. Ny. M. de Fretes. Kedua hamba Tuhan ini, menggembalakan Jemaat GPM Bethabara sampai dengan tahun 2002, dan kemudian  digantikan dengan Pdt. F. L. Hitijahubessy yang dibantu oleh Pdt. Ny. M. M. Louhery, dan Pdt. Ny. L. Sipahelut yang bertugas sampai dengan tahun 2007.

Selama kepemimpinan Pdt. F. L. Hitijahubesy salah satu sektor pelayanan dari jemaat GPM Bethabara yaitu Sektor VIII (delapan) direlokasikan ke Jemaat GPM Halong Klasis Pulau Ambon, dan pada tanggal 4 Juni 2006 Jemaat GPM Bethabara secara kelembagaan melepaskan sektor VIII kepada Jemaat GPM Halong. Dengan demikian secara kelembagaan Jemaat Bethabara hanya terdiri dari 7 (tujuh) sektor pelayanan.

Setelah kepemimpinan Pdt. F. L. Hitijahubesy, Jemaat GPM Bethabara dipimpin oleh Pdt. D. Chr. Soplanit dan dibantu oleh Pdt. Ny. M. M. Louhery, Pdt. Ny. L. Sipahelut, dan Pdt. Ny. A. Batlajery. Dalam perjalanan pelayanan ke depan sektor-sektor yang ada di dalam Jemaat GPM Bethabara, namanya diubah dari angka ke nama. Pesatnya dinamika dan pertumbuhan umat, membuat Sektor Salem dimekarkan menjadi 2 (dua) sektor yakni Sektor Salem dan Sektor Sion. Dengan demikian secara kelembagaan Jemaat Bethabara memiliki 8 (delapan) sektor pelayanan dan 19 (Sembilan belas) unit, yang dilayani oleh 38 (tiga puluh delapan) Majelis Jemaat yang terdiri dari 19 orang Penatua, dan 19 orang Diaken, ditambah dengan 3 (tiga orang tenaga Pendeta).

Pasca pemekaran Jemaat Bethabara dari Jemaat GPM Bethel, maka terhadapat 13 (tiga belas) Pendeta yang terlibat didalam pelayanan umat, antara lain sebagai berikut.

  1. Mozes Lawalatta ( Tahun 1982 – 1988 )( dibantu oleh Pdt. Ny. Lies Marantika )
  2. Ny. Lies Marantika ( Tahun 1988 – 1989 )
  3. B. Pentury ( Tahun 1989 – 1996 )( dibantu oleh Pdt.  Ny. Mito de Fretes dan Pdt. Jambormias )
  4. I. D. Toisuta ( Tahun 1996 – 2002 )(dibantu oleh Pdt. Ny. Mito de Fretes )
  5. F. L.Hitijahubessy ( Tahun 2002 – 2007 )(dibantu oleh Pdt. Ny. M. M. Leuhery, Pdt. Ny. L. Sipahelut dan Pdt. Ny. R. Salampessy )
  6. Ny. M. M. Leuhery ( Tahun 2002 – 2009 )
  7. Ny. L. Sipahelut ( Tahun 2005 – 2013 )
  8. D. Soplanit ( 2007 sampai sekarang )(dibantu oleh Pdt. Ny. M. M. Leuhery, Pdt. Ny. L. Sipahelut, Pdt. Ny. R. Salampessy dan Pdt. Ny. A.  Batlajery)
  9. Pada tahun 2009 terjadi mutasi bagi Pendeta Ny. M. M. Leuhery ke Jemaat GPM Hulaliu Kasis PP Lease
  10. Ny. A. Batlajery ( Tahun 2009 – 2015 )
  11. Ny. L. Sipahelut dimutasikan ke Jemaat Sion Klasis Kota Ambon ( 28 Juni 2013 )
  12. Ny. Tjun Aitonam ( Tahun 2015 )
  13. Ny. N. Sinay / M ( Tahun 2015 )Ny. L. Mustamu/P ( Tahun 2016 – )

Batas Wilayah Pelayanan

Berikut dijelaskan batas-batas wilayah pelayanan Jemaat GPM Bethabara berdasarkan lokasi domisili jemaat  sebagai berikut :

  • Sebelah Utara berbatasan dengan Jemaat Ebenhaeser – SKIP
  • Sebelah Selatan berbatasan dengan Negeri Soya
  • Sebelah Barat Berbatasan dengan Jemaat Negeri Soya
  • Sebelah Timur Berbatasan dengan Kopertis – Negeri Soya

 

Perlu diketahui bahwa kondisi topografi jemaat adalah lokasi yang berbukit dan jauh dari garis pantai, sehingga tidak ditemukan adanya warga jemaat yang bermata pencaharian sebagai nelayan. Walaupun demikian juga tidak terdapat anggota jemaat yang bermata pencaharian murni sebagai petani karena tidak tersedianya lahan yang cukup untuk bercocok tanam.

Karena letaknya di pusat Kota  Ambon, maka sebagian besar jemaat bermata pencaharian sebagai Pegawai Negeri, TNI/POLRI, Swasta dan usaha-usaha lain sebagai pengemudi angkot, ojek dan pengemudi becak.